GURU MEMBOLOS , APA TAK MALU ?
Siswa dikelas sebelah begitu ributnya, suaranya gemuruh laksana guntur yang bersahutan, suara hiruk pikuk, diiringi tertawa terbahak-bahak ditambah lagi dengan suara meja yang dipukul-pukul bercampur menjadi satu membuat suasana gaduh, ribut yang luar biasa, padahal waktu belajar sudah dimulai. Tak tahan dengan suasana yang begitu gaduhnya, begitu bisingnya, membuat Bu Rina mencoba menengok kekelas sebelah, melihat ada guru yang datang anak-anak langsung terdiam, ada yang bengong, ada yang pura-pura menatap keluar jendela dan ada pula yang pura-pura mau buang air kecil, bermacamlah tingkah polahnya.
“ Kenapa ribut, kalian tidak belajar ya ?! “ tanya Bu Rina dengan nada sedikit tinggi.
“ Gurunya tidak ada, Bu “ jawab mereka serempak, jawaban yang polos dari anak yang berusia belasan.
Astagfirullah…. pantas saja mereka ribut, untuk mengatasi kembali ribut dan mengisi waktu bagi para siswa yang tidak belajar, Bu Rina memerintahkan para siswa untuk pergi keperpustakaan untuk membaca buku atau meringkas pelajaran yang sedang berlangsung, sebuah keputusan yang tepat, dibanding dengan keributan yang terjadi dikelas sehingga bisa mengganggu kelas-kelas yang lain.
Banyak kenyataan yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, guru yang tidak masuk kekelas, sehingga mengakibatkan gangguan pada kelas yang lain, mungkin tidak terpikirkan oleh kita, seberapa banyak jumlah siswa yang berada dikelas tersebut yang mengalami kerugian karena hanya akibat olah seorang guru yang bolos mengajar, apalagi jumlah yang tidak masuk mengajar lebih dari satu, tak bisa dibayangkan berapa banyak pada waktu tersebut siswa yang dirugikan, rugi tenaga, rugi biaya maupun juga rugi waktu.
Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh suatu survei yang mengatakan kurang lebih 500 ribu guru yang absen atau lebih tepat saya bilang “bolos” mengajar perharinya di negara kita Indonesia. Sungguh berita yang sangat mengejutkan, angka 500 ribu bukanlah jumlah yang sedikit. Angka 500 ribu setara dengan jumlah guru di malaysia dan Thailand. Guru yang seharusnya memberikan contoh dan suri tauladan yang baik kepada anak didik dan lingkungan sekitar, malahan memberikan contoh yang kurang baik dan tidak patut untuk dicontoh oleh para siswa dan siswinya.
Andaikan setiap kelas berisi 20 orang siswa dikalikan dengan jumlah guru yang membolos, berarti ada 10.000.000 siswa yang tidak belajar pada hari itu, angka yang besar dan fantastis, sungguh betapa ruginya mereka ( para siswa ) datang kesekolah yang telah berkorban waktu, tenaga dan juga biaya akan tetapi hanya bangku guru yang kosong yang mereka temui. Hal ini tidak menutup kemungkinan siswa yang tidak belajar akan berkeliaran dijalanan, ada yang ke mall, ada yang pergi ke warnet mungkin juga ketempat permainan game, bilyar dan lain sebagainya.
Menurut data kemendiknas diseluruh Indonesia ada 2,6 juta guru di negeri kita ini , bila dihitung presentasinya berarti ada 19,2 % guru yang membolos setiap harinya. Hal ini akan merugikan siswa karena tidak ada transfer ilmu padahal antara keduanya baik guru maupun siswa bersinergi untuk mencerdaskan bangsa, untuk waktu sekarang maupun untuk masa yang akan datang.
Bekerja yang tidak ikhlas dan sukarela ditambah dengan angan-angan yang tinggi mengakibatkan perbuatan bolos mengajar dianggap sebagai perbuatan yang biasa, padahal berakibat luar biasa bagi siswa yang notabene sebagai generasi penerus untuk kemajuan bangsa dimasa datang.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Sejuta pertanyaan dibenak kita, apakah memang watak kebiasaan ataukah akibat peraturan yang lemah sehingga memberi peluang dan kesempatan bagi guru untuk melanggarnya ? Mengutip dari pernyataan Wakil Ketua Komisi IX DPR, Abdul Hakam Naja yang manyatakan “ guru yang sering mangkir mengajar dan hanya titip tanda tangan kehadiran, mestinya diberi sanksi yang keras “
Beginilah fotret pendidikan dinegeri kita, berbagai cobaan dan hambatan terus menghadang untuk kemajuan bangsa dan Negara, kita tak bias berpangku tangan, kesuksesan anak didik kita tak akan datang dengan sendirinya, bukan datang dari sifat bermalas-malasan seperti membolos mengajar, akan tetapi datang dari hasil kerja keras, jadikanlah sekolah sebagai ladang amal bagi kita yang kita bawa dan manfaatkan diakherat kelak. mari mulai saat ini kita satukan tekad dan kamauan untuk kemajuan bangsa dan Negara melalui pendidikan, kalau bukan kita, siapa lagi.
7 December 2010 at 07:02
yach malu dong…emangnye gue pikirin kata guru yang tak sertfikasi he hee ….tapi bagi org yg beriman tentu perbuatan membolos bukanlah sebuah prilaku yg tak berkarakter, Memalukan …!!!!
8 December 2010 at 00:18
@ rahmadi
bujur banar pa ai. terima kasih atas kunjungan pian pa lah.